Sleman, (11/10/2025) – Dunia penelitian biologi kembali menyoroti urgensi pencarian solusi pengobatan kanker yang lebih efektif dan minim efek samping. Dalam ajang BIOSFER 3.0: Seminar Nasional Biologi 2025 yang diselenggarakan oleh Departemen Biologi FMIPA Universitas Padjadjaran (Unpad) pada Sabtu (11/10), salah satu karya ilmiah berhasil menarik perhatian dewan juri dan dinobatkan sebagai Best Presenter.
Prestasi tersebut diraih oleh Anwar Rovik, seorang mahasiswa magister bioteknologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia mempresentasikan penelitiannya yang berjudul “Efek antiproliferatif ekstrak Peperomia pellucida pada kanker payudara luminal: studi in silico dan in vitro”.
Dalam presentasinya, Anwar Rovik menyoroti tantangan utama dalam terapi kanker saat ini. “Tingginya efek samping yang ditimbulkan oleh kemoterapi konvensional seringkali menurunkan kualitas hidup pasien,” ujar Anwar. “Hal ini mendorong kami untuk mencari agen antikanker dari bahan alam yang dapat digunakan sebagai terapi tunggal maupun, yang lebih penting, sebagai ko-kemoterapi.”
Ko-kemoterapi merujuk pada kombinasi pengobatan alami dan konvensional yang bertujuan meningkatkan efektivitas terapi sekaligus menekan toksisitas obat kimia. Penelitian ini secara spesifik berfokus pada tumbuhan lokal yang umum dikenal sebagai ‘Suruhan’ atau Peperomia pellucida.
Penelitian yang memadukan metode komputasi (in silico) dan uji laboratorium (in vitro) ini menemukan bahwa ekstrak P. pellucida memiliki efek antiproliferatif signifikan terhadap sel kanker payudara tipe luminal. Hasil ini membuka jalan bagi pengembangan ekstrak ‘Suruhan’ menjadi kandidat obat pendamping terapi kanker payudara di masa depan.
Seminar Nasional Biologi Unpad kali ini mengusung tema besar “Inovasi dan Kolaborasi Ilmu Biologi Menuju Ekosistem Lestari” dan dihadiri oleh akademisi, peneliti, serta praktisi dari seluruh Indonesia. Keberhasilan Anwar Rovik sebagai salah satu pemakalah terbaik menunjukan kualitas riset bioteknologi UGM dalam memberikan solusi inovatif berbasis sumber daya alam.
“Penelitian seperti ini sangat relevan dengan sub-tema kami tentang inovasi biologi dalam konservasi keanekaragaman hayati, sekaligus memberikan harapan baru dalam bidang kesehatan,” komentar Dinda Hani’ah, salah satu moderator BIOSFER 3.0.